Bukan Sekadar Penghargaan, AGP 2026 Dorong Guru Tulungagung Berbagi Inovasi Pembelajaran

Bagikan :

TULUNGAGUNG ,potretnusantara.web.id – Kreativitas guru dalam menghadirkan pembelajaran yang inovatif mendapat ruang dalam Anugerah Guru Prima (AGP) Kabupaten Tulungagung Tahun 2026. Kegiatan yang digelar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Tulungagung, Rabu (26/8/2026), menjadi ajang bagi para pendidik untuk memamerkan karya sekaligus berbagi praktik baik yang telah diterapkan di sekolah.

Berlangsung di halaman Sekretariat PGRI Kabupaten Tulungagung, AGP 2026 menghadirkan berbagai karya guru dari sejumlah jenjang pendidikan. Melalui gelar karya, peserta menunjukkan ide, metode, maupun inovasi yang dikembangkan sebagai bagian dari upaya menjawab kebutuhan pembelajaran di sekolah.

Suasana kegiatan tidak hanya dipenuhi karya yang dipamerkan. Para peserta juga dituntut mampu menjelaskan gagasan di balik inovasi yang mereka buat, termasuk proses penerapan hingga manfaat yang dirasakan dalam kegiatan belajar mengajar.

Kehadiran Ketua PGRI Provinsi Jawa Timur Joko Adi Waluyo bersama Ketua PGRI Kabupaten Tulungagung Muhadi, M.Pd., jajaran pengurus PGRI, serta para guru dari berbagai satuan pendidikan turut memberikan dorongan terhadap semangat pengembangan profesionalisme guru.

Ketua PGRI Kabupaten Tulungagung Muhadi, M.Pd. mengatakan, perubahan zaman membuat guru harus terus meningkatkan kemampuan dan tidak berhenti pada pola pembelajaran yang selama ini dilakukan.

Menurutnya, inovasi pendidikan tidak selalu harus berbentuk sesuatu yang besar. Hal sederhana yang mampu membuat pembelajaran menjadi lebih efektif, menarik dan sesuai kebutuhan peserta didik juga merupakan bagian dari inovasi.

“Guru harus terus belajar dan beradaptasi. Praktik baik yang dilakukan seorang guru bisa menjadi inspirasi bagi guru lainnya,” kata Muhadi.

Ia menjelaskan, AGP dirancang bukan sekadar sebagai ajang untuk menentukan guru terbaik. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai pengalaman dan gagasan yang berkembang di lingkungan pendidikan.

Dalam pelaksanaannya, peserta mengikuti sejumlah tahapan penilaian. Setelah mempersiapkan gelar karya, peserta mengikuti proses display dan presentasi karya. Penilaian kemudian dilanjutkan melalui wawancara untuk menggali lebih jauh mengenai inovasi yang ditampilkan.

Tahapan tersebut menjadi bagian dari proses penentuan penerima Anugerah Guru Prima SLCC 2026.

Bagi PGRI Kabupaten Tulungagung, proses tersebut dinilai penting karena sebuah inovasi tidak hanya dilihat dari bentuk karya yang dihasilkan. Kemampuan guru dalam menerapkan inovasi dan menjelaskan dampaknya terhadap pembelajaran juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan.

“Yang paling penting bukan hanya hasil akhirnya, tetapi bagaimana karya itu diterapkan dan memberikan manfaat bagi peserta didik,” jelasnya.

Selain gelar karya dan penilaian, rangkaian kegiatan AGP 2026 juga diramaikan dengan pelantikan PKO PGRI Kabupaten Tulungagung serta pentas seni. Berbagai agenda tersebut membuat kegiatan berlangsung dalam suasana yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga penuh kebersamaan.

Muhadi berharap semangat yang muncul dalam AGP 2026 tidak berhenti setelah kegiatan berakhir. Karya dan pengalaman yang ditampilkan para peserta diharapkan dapat diteruskan dan dikembangkan di lingkungan sekolah masing-masing.

“Harapannya, setelah kegiatan ini guru semakin termotivasi untuk menciptakan pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Apa yang baik dari satu guru bisa dikembangkan oleh guru lainnya,” ujarnya.

Menurutnya, peningkatan kualitas pendidikan membutuhkan keterlibatan seluruh unsur, terutama guru yang bersentuhan langsung dengan peserta didik setiap hari.

Karena itu, AGP 2026 diharapkan menjadi salah satu momentum untuk memperkuat budaya belajar di kalangan guru. Bukan hanya belajar untuk meningkatkan kompetensi pribadi, tetapi juga belajar dari pengalaman dan praktik baik sesama pendidik.

Dengan semangat tersebut, gelar karya dalam AGP 2026 bukan sekadar menjadi tempat memajang hasil kreativitas guru. Lebih jauh, kegiatan ini menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa inovasi pembelajaran dapat lahir dari pengalaman sehari-hari di sekolah dan kemudian berkembang menjadi inspirasi bagi dunia pendidikan di Tulungagung. (Red)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *