Larung Sembonyo Pantai Popoh: Plt. Bupati Ahmad Baharudin Tekankan Pentingnya Melestarikan Tradisi untuk Kemajuan Pariwisata Tulungagung

Bagikan :

TULUNGAGUNG, potretnusantara.web,id – Pemerintah Kabupaten Tulungagung kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga warisan budaya sekaligus mengembangkan sektor pariwisata daerah. Hal itu ditunjukkan melalui kehadiran Plt. Bupati Tulungagung, H. Ahmad Baharudin, S.M., M.M., pada Upacara Adat Labuh Laut Larung Sembonyo yang digelar di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pantai Popoh Indah, Desa Besole, Kecamatan Besuki, Minggu (5/7/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Plt. Bupati didampingi Ny. Yuyun Ahmad Baharudin. Turut hadir Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Tulungagung sekaligus Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Erma Susanti, S.E., M.Si., jajaran Forkopimcam Besuki, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan, Kepala UPT Pelabuhan Popoh, Kepala Desa Besole, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta ratusan nelayan dan ribuan warga yang memadati kawasan Pantai Popoh.

Larung Sembonyo sendiri merupakan tradisi sakral masyarakat pesisir Desa Besole yang rutin diselenggarakan setiap bulan Suro atau Muharam sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan rezeki hasil laut, sekaligus memohon keselamatan, kelancaran, dan keberkahan bagi para nelayan saat mencari nafkah di lautan.

Selanjutnya acara Prosesi adat diawali dengan kirab sesaji dari Pendopo Agung Pantai Popoh menuju Tempat Pelelangan Ikan (TPI), dilanjutkan dengan ujub, doa bersama, kenduri, hingga puncaknya pelarungan sesaji ke tengah laut menggunakan perahu yang dikawal para nelayan.

Suasana berlangsung khidmat, sementara ribuan masyarakat dan wisatawan tampak antusias menyaksikan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut.

Dalam Kesempatannya Plt. Bupati Ahmad Baharudin menegaskan bahwa Larung Sembonyo bukan sekadar seremoni budaya, tetapi merupakan warisan leluhur yang sarat akan nilai spiritual, kebersamaan, gotong royong, serta rasa syukur yang wajib dijaga keberlangsungannya.

“Tradisi ini menjadi pengingat bahwa masyarakat harus senantiasa bersyukur kepada Allah SWT atas rezeki yang diberikan, sekaligus menjaga kebersamaan dan melestarikan budaya yang menjadi identitas Kabupaten Tulungagung,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan pengembangan sektor pariwisata. Menurutnya, tradisi seperti Larung Sembonyo memiliki nilai strategis sebagai daya tarik wisata budaya yang mampu mendongkrak kunjungan wisatawan sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat pesisir.

“Larung Sembonyo memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata budaya. Jika terus dikembangkan dan dipromosikan, tradisi ini tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir,” tambahnya.

Pelaksanaan Larung Sembonyo tahun 2026 berlangsung aman, tertib, dan penuh khidmat. Membludaknya masyarakat dan wisatawan yang memadati Pantai Popoh menjadi bukti bahwa tradisi budaya lokal masih memiliki daya tarik kuat serta menjadi aset penting dalam memperkuat identitas dan citra Kabupaten Tulungagung.

Melalui penyelenggaraan tradisi ini, Pemerintah Kabupaten Tulungagung berharap Larung Sembonyo terus diwariskan kepada generasi mendatang sebagai simbol rasa syukur, pelestarian budaya, serta penguat sektor pariwisata yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Reporter : Mit

Editor : Admin

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *